Oleh: Ikhsan | 11,Februari 2009

bisnis online gratis

Oleh: Ikhsan | 27,Oktober 2008

Sejarah Kota TODDOPULI TEMMALARA

Sejarah Kota TODDOPULI TEMMALARA

(Ikhsan Pallawa)

Kata TODDOPULI TEMMALARA mungkin terdengar asing bagi kita, tetapi bila kita mencari tentangnya, maka anda akan di bawa ke sebuah kota yang bernama Palopo, para sastrawan tentunya tahu tentang palopo, karena ia tidak lepas dari kebudayaan luwu. Lagaligo Salah satu karya sastra tertua dan terpanjang di dunia semuanya bermuara di palopo. Tidak hanya itu, beberapa pahlawan yang cukup terkenal pun lahir di kota ini, seperti opu daeng risaju (dari Bangsawan Sampai Tokoh Pergerakan (1930-1950), kemudian andi jemma seorang Raja Luwu yang juga turut berjuang Melawan Pejajah Belanda. Tidak kalah pentingnya lagi, sejak SD hingga SMA saya sekolah di kota ini, di SMA 1 Palopolah karakter berfikir seorang bugis itu mulai tertanam dalam diri saya. Bukan kesombongan melainkan keberanian untuk memperjuangkan kebenaran, seperti itulah falsafah bugis yang sebenarnya. Mencermati akan keberadaan kota palopo yang kini menjadi kotamadya, salah satu kota yang berada di profinsi sulawesi selatan.pastilah kita bertanya sejak kapan kata palopo itu mulai terdengar di masyarakat atau di populerkan, kalau istilah pemerintah di resmikan. Nah,bermula dari diskusi bersama teman saya di netherlands yang juga sama-sama berasal dari palopo. Saya kemudian tertarik untuk mengulas sedikit tentang palopo, sebuah kebanggaan ketika kita mampu memberikan dan menjelaskan tentang keberadaan atau kampung yang tentunya tidak lepas dari tanah kelahiran kita.

Di zaman orde baru dan beberapa tahun setelahnya, Kabupaten luwu beribukotakan palopo sebelum menjadi kotamadya. Sejalan dengan perkembangan zaman, luwu kemudian di mekarkan menjadi beberapa kabupaten. yaitu Luwu utara ibukotanya masamba, kemudian Luwu Timur beribukotakan Malili. serta Kabupaten Luwu dengan ibukota Belopa. Kemudian palopo berdiri sebagai kotamadya. Kata beberapa pakar yang mengkaji hal ini, luwu di mekarkan untuk di satukan dalam sebuah profinsi luwu raya. Semoga harapan itu bisa terlaksana. Kalau tidak salah wacana atau berkasnya saat ini telah sampai ke kursi DPR. Nah, sekarang siapkah teman-teman di palopo dan sekitarnya berdiri dalam sebuah profinsi tersendiri yang artinya terpisah dari sulawesi selatan ?

Kembali ke topik, dalam epik Lagaligo, Palopo dahulu bernama Ware, dalam tradisi masyarakat bugis yang tertuang dalam Lagaligo dikenal istilah Sawerigading Opunna Ware’ yang artinya sawerigading yang dipertuan di ware yang sekarang palopo, mengingat sejarah pembangunan masjid jami’ tua yang juga terkenal di palopo, penggunaan nama “Palopo” ini diperkirakan sejak tahun 1604, bersamaan dengan pembangunan mesjid Jami’ Tua. Kalau kita membaca referensi tentang kota palopo di wikipedia maka akan di temukan tentang kata “Palopo” yang diambil dari dua kata bahasa Bugis-Luwu. Arti yang pertama adalah penganan ketan dan air gula merah dicampur. Arti yang kedua, dari kata “Palo’po”, yang artinya memasukkan pasak ke dalam tiang bangunan. Dua kata ini ada hubungannya dengan pembangunan dan penggunaan resmi mesjid Jami’ Tua, yang dibangun pada tahun 1604. Diyakini bahwa di tengah-tengah bangunan masjid jami ini dahulu tumbuh sebuah pohon yang di namai pohon cannaguni yang ketebalanya menghampiri satu meter. Masyarakat Luwu kemudian menyatakan bahwa masjid jami’ adalah pusat Palopo, Arsitektur Kota Palopo ditata dengan pendekatan, agar tercipta suasana yang ramai. Istana kediaman Datu juga 40 depa dari masjid Jami’.

Hal yang kemudian harus diingat bahwa palopo atau kerajaan luwu awalnya terpecah menjadi dua wilayah kekuasaan dan satu wilayah netral. Wilayah netral saat itu adalah kemadikan bua yang meliputi Kolaka, Luwu Tenggara dan Palopo/Libukang, dimana saat itu palopo merupakan perkampungan nelayan yang berpusat di Libukang, sedangkan Dua wilayah kekuasaan lainnya adalah yang pertama Luwu wilayah pengaruh Pattimang Malangke (sekarang luwu utara) dibagian utara dibawah pemerintahan Patipasaung dan yang kedua Luwu wilayah pengaruh Ponrang yang berpusat di kamanre di wilayah selatan dibawah pemerintahan patiraja. Akibat perebutan kekuasaan maka pada tahun 1616 terjadi perang saudara luwu antara dua wilayah kekuasaan, yang kemudian dikenal dengan Perang antara Utara dan Selatan. Hingga pada 1619, Maddika Bua (orang yang di tuankan di bua) berinisiatif untuk mencari solusi atas fenomena ini. Maka pada saat pesta panen di wilayah Bua, Patiraja dan Patipasaung diundang oleh Maddika Bua, uniknya kedua raja ini dibuatkan pintu masuk secara terpisah, Pintu utara yang kemudian dimasuki oleh Patipasaung, dan pintu selatan oleh Patiraja. Dan keduanya bertemu di tengah panggung, kaget serta gempar suasana saat itu terlebih saat keduanya diserahi badik (senjata khas bugis) oleh Maddika Bua dan keduanya di persilahkan untuk bertarung. Madika Bua berkata “Wahai kedua junjungan kami, sudah tahunan rakyat saling membunuh, janda telah banyak, anak yatim sudah tidak terbilang lagi. Ini adalah akibat Luwu diperintah dua raja. Kami hanya menghendaki seorang”.

Bermula dari perkataan itulah, Patiraja tiba-tiba insyaf. dan berkata kepada Patipasaung “Wahai adikku. Engkaulah yang disukai oleh orang banyak. Aku ini, abangmu telah hanyut dalam gelora nafsu kekuasaan. Aku khilaf. Sebagian rakyat telah saya ikutkan dalam diriku. Terimalah badik ini, dan terima pula penduduk Kamanre seluruhnya ke dalam Luwu yang damai, tenteram dan sejahtera. Biarlah aku abangmu kembali ke Gowa (wilayah selatan kota Makassar) di mana kita dilahirkan. Siapa tahu, Dewata Allah Taala menerima diriku di tanah leluhur kita”.

Inilah peristiwa yang kemudian menyatukan kembali Luwu. Patipasaung memindahkan pusat kerajaan Luwu ke wilayah palopo sekarang ini dan sejak itu pulalah perkembangan daerah luwu mulai pesat karena penduduknya bangga menjadi To Ware , hal ini terlihat dari Kebresamaan yang diajarkan secara turun temurun oleh orang-orang terdahulu hingga saat ini dan akan terus dipertahankan oleh masyarakat kota Palopo, seperti yang tertulis tugu badik, yang ada di halaman istana datu Luwu “TODDOPULI TEMMALARA”.

Palopo punya kebanggaan, marilah kita lahirkan dalam diri kita, bahwa kita adalah satu anggota tubuh yang saling menguatkan.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori