Posted by: Ikhsan Pallawa | Agustus 1, 2007

Sahabat Sejati !!!

Alangkah indahnya sebuah persahabatan jika didalamnya terdapat saling nasehat tentang iman, pentingnya mengingat mati, kepastian hari akhir dan segala hal tentang kebenaran hakiki termasuk segala kebaikan. Diri terasa dihibur dan juga digentarkan. Dihibur dengan cerita mengenai ganjaran kebaikan berupa surga, berlipatnya balasan Alloh SWT atas sebuah kebaikan yang diperbuat di dunia dan digentarkan oleh cerita dahsyatnya siksa neraka, bukan hanya bagi orang yang ingkar terhadap Alloh SWT dan Rosul-Nya, namun juga bagi orang yang berbuat baik dengan niat yang sudah di kotori.

Alangkah indahnya seorang sahabat, yang ketika kita berbuat salah ia menegur dan menasehati, bukan karena rasa benci, namun karena begitu cintanya ia terhadap kita sehingga tak bosan-bosannya mengingatkan akan sebuah kebenaran. Terkadang kita terlupa, termakan oleh egoisme diri, merasa lebih baik, lebih banyak makan asam garam, sehingga menafikan sebuah kebenaran yang sebenarnya datang dari Alloh SWT dan Rosul-Nya lewat lidahnya. Alangkah indahnya seorang sahabat, yang mau ikut menangis bersama, ketika melihat sahabat lainnya jatuh dalam kubangan nista dan dosa, merasa kasihan, bukan kebencian hingga bergetar bibir menahan tangis dan kesedihan, terluka jiwa yang fitrah oleh tajamnya belati hawa nafsu.

Alangkah indahnya petunjuk Rosululloh SAW perihal memilih sahabat. Beliau umpamakan dengan penjual minyak wangi dan pandai besi. Jika berteman dengan penjual minyak wangi, minimal akan mendapat dan mencium wanginya. Berteman dengan seorang pandai besi, bisa-bisa percikan apinya mengenai tubuh dan juga kedapatan bau busuknya. Sungguh, beruntung seseorang yang mendapatkan sahabat sejati, yang memuji dibelakangnya dan mengoreksi didepannya.

Siapakah yang telah menjadi sahabat masing-masing dari kita saat ini?

Posted by: Ikhsan Pallawa | Agustus 1, 2007

Sabar Menikmati Proses

Sabar Menikmati Proses

Pernahkah kita mengeluh ketika do’a kita serasa tidak di dengar oleh Allah SWT? Begitu banyak dari kita yang akhirnya merasa bosan dan kecewa karena hampir setiap hari memanjatkan permohonan yang sama atas banyak keinginan, namun seolah apa yang diharapkan dalam do’a tak jua kunjung nyata.

Janganlah pernah berpikiran dan berprasangka seperti itu terhadap Allah SWT. Kita memiliki kehendak, orang lain juga memiliki kehendak, namun Allah SWT lebih berkehendak terhadap diri kita, hamba-hamba-Nya. Berbaik sangkalah bahwa setiap keputusan Allah SWT terhadap hamba-Nya sesungguhnya demi kebaikan hamba itu sendiri. Jangan pernah berprasangka bahwa penangguhan atas do’a yang kita panjatkan dikarenakan Allah SWT tidak sayang kepada kita. 

Terlupakah kita bahwa hingga hari ini Allah SWT tak juga menghentikan asupan oksigen bagi kita untuk bernafas, kecuali memang sudah saatnya bagi kita untuk tidak bernafas kembali. Mata kita masih jelas digunakan untuk memandang. Kaki kita masih ringan untuk dilangkahkan. Tangan kita beserta jari-jemarinya masih saja lincah menekan tiap tombol keyboard dikomputer kita. Jika beberapa kenikmatan itu saja merupakan anugerah yang begitu besar dan bernilai, pantaskah kita berkeluh kesah untuk beberapa do’a yang pengabulannya “masih” Allah SWT tangguhkan?

Kita begitu bernafsu dan berkeinginan segala sesuatu yang menjadi harapan harus segera terwujud, namun tidak menyadari bahwa sebuah penangguhan dari Allah SWT boleh jadi terdapat hikmah yang besar didalamnya. Bersabarlah dalam menunggu setiap keputusan dari Allah SWT. Bersabar dan tersenyumlah dalam menikmati setiap proses kehidupan. Sadarilah bahwa nasi yang kita makan sehari-hari hingga akhirnya tersaji matang dihadapan kita bukanlah hadir secara cepat kilat dan tiba-tiba.

Cobalah kita runut sebentar ke belakang. Begitu banyak tangan-tangan yang berperan atas hadirnya nasi matang tersebut. Begitu banyak tahap-tahap yang harus dilalui sehingga benih padi yang ditanam dapat menjadi nasi matang yang hangat lagi gurih. Tak perlu untuk menyebutkan satu persatu setiap tahap itu. Cobalah untuk menyadari dan bersabar, bahwa banyak hal di dunia ini yang harus melalui proses dan tidak instan. Boleh jadi kita menyenangi sesuatu, namun hal itu sesungguhnya berakibat buruk bagi kita, dan boleh jadi kita membenci sesuatu, namun hal itu sesungguhnya amat baik untuk diri kita. Sesungguhnya Allah SWT lebih mengetahui dari pada diri kita. Wallahu a’lam.

Posted by: Ikhsan Pallawa | Agustus 1, 2007

JANGAN JADIKAN AIR ITU BERHENTI

JANGAN JADIKAN AIR ITU BERHENTI

Perang Ahzab atau perang Khandaq adalah salah satu pertempuran yang sangat

melelahkan. Memang pertempuran dalam arti saling bunuh membunuh dalam jarak
dekat tidak banyak terjadi. Namun, 10000 pasukan multinasional yang mengepung
Madinah telah membuat kaum muslimin tidak sempat melakukan shalat Zhuhur, Ashar,
dan Maghrib. Bahkan “hanya” sekedar kencing saja juga tidak sempat.

Selesai perang yang sangat melelahkan secara phisik dan psikis ini, Rasulullah
saw hendak beristirahat barang sejenak. Karenanya, beliau sarungkan dan
gantungkan pedang dan senjata beliau.

Namun Allah swt tidak menginginkan beliau dan kaum muslimin beristirahat.
Karenanya, Allah utus malaikat Jibril as untuk menemui Rasulullah saw.

Sambil tetap berada di atas bighal, malaikat Jibril as berkata: “Sepertinya
engkau sudah meletakkan senjatamu, wahai Rasulullah saw? Padahal para malaikat
belum meletakkan senjata mereka …”.

Rasulullah saw sadar bahwa Allah swt, melalui Jibril, telah memerintahkannya
untuk melanjutkan jihad, kendatipun ia belum sempat beristirahat barang
sejenak.(Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam).

Riwayat ini menggambarkan kepada kita agar kita “tidak berhenti” dalam dan dari
berjihad.

Pada suatu hari, ada beberapa orang Anshar sedang berkumpul-kumpul. Salah
seorang diantara mereka, yaitu Abul Ayyub Al-Anshari, berkata: “Sekarang Islam
telah jaya, telah eksis, dan telah kokoh. Sebaiknya kita kembali ke
ladang-ladang kita, kebun-kebun kita, kita urus lagi harta kekayaan kita yang
selama ini “terbengkalai” dan kita garap lagi lahan-lahan itu dengan serius,
lahan yang selama ini telah kita “tinggalkan” dalam rangka berjihad fi
sabilillah, dan hasilnya kita infaqkan fi sabilillah juga, sementara jihad di
medan laga biar ditangani oleh saudara-saudara kita lainnya”.

Pada saat itu pula Allah swt menurunkan firman-Nya:

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan
dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS Al Baqarah: 195).

Sedangkan riwayat yang satu ini menggambarkan kepada kita bahwa kehancuran, atau
kebinasaan, atau istilah Al Qur’annya tahlukah akan terjadi manakala kita
meninggalkan jihad.

Kalau dua riwayat ini kita hubungkan dengan sirah Rasulullah saw lainnya, kita
akan temukan data-data berikut:

?Peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah saw secara langsung (ghozwah) ada 26
ghozwah.

?Peperangan yang tidak dipimpin oleh Rasulullah saw secara langsung (sariyyah)
ada 38 sariyyah.

Maka kita akan dapat menarik satu kesimpulan bahwa manuver Rasulullah saw dan
para sahabatnya itu tiada henti dan tanpa putus. Bagaimana tidak, waktu yang
kurang lebih sepuluh tahun itu terisi oleh peperangan 64 kali peperangan.

Sungguh, sebuah manuver yang menggambarkan betapa Rasulullah saw dan para
sahabatnya senantiasa menumpahkan segala potensi dan kemampuan yang dimilikinya
secara maksimal dan tiada henti, sehingga “tidak ada” waktu lagi untuk
bersitirahat dan “meng-andai-andaikan” hal-hal yang sifatnya duniawi.

Kalau hal itu kita ibaratkan sebagai air yang mempunyai potensi besar untuk
menerjang apa saja, maka aliran air itu tiada pernah berhenti.

Kalau Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 195 itu kita hubungkan dengan pengibaratan
air ini, kita bisa katakan bahwa justru kalau air itu berhenti, dan tidak lagi
mengalir, maka air itu akan menjadi rusak, kotor, sarang nyamuk, dan sumber
penyakit, serta berubah warnanya. Begitu juga dengan potensi jihad yang ada pada
kita. Bila potensi jihad itu kita berhentikan, baik jihad da’awi, jihad ta’limi,
jihad irsyadi, jihad tarbawi, jihad bina-I (jihad membina), jihad qitali dan
jihad-jihad lainnya, maka potensi itupun akan bernasib sama dengan air itu.
Karenanya wajar bila Allah swt memperingatkan para sahabat akan datangnya
tahlukah kepada mereka bila mereka meninggalkan jihad, dan menyibukkan diri
dengan urusan pertanian, kehutanan dan perkebunan.

Firman Allah swt diatas dipertegas juga oleh hadits Rasulullah saw yang
menyatakan:

Jika kalian telah berjual beli secara ‘ienah (rekayasa dan akal-akalan dalam
praktek riba), kalian telah mengambil ekor sapi dan puas (asyik) dengan
pertanian serta meninggalkan jihad, niscaya Allah swt akan menjadikan kehinaan
menguasai kalian yang tidak akan dicabut sehingga kalian kembali kepada agama
kalian. (HR Abu Daud dan Ahmad, dan Syekh Nashirud-Din Al Al Bani menilainya
hasan).

Berkenaan dengan hal ini simaklah apa yang dikatakan oleh Sayyid Qutub dalam
salah satu bukunya:

“Yang demikian ini karena, hakikat iman tidak akan sempurna dalam hati,
melainkan setelah:

Bermujahadah dalam menghadapi orang banyak dalam urusan iman ini;
Mujahadah dengan hati; bentuknya: membenci kebatilan mereka, jahiliyyah mereka
dan bertekad memindahkan mereka dari kebatilan dan jahiliyyah itu kepada
kebenaran dan Islam.

Mujahadah dengan lisan; bentuknya:

Tabligh.dan bayan (penerangan).
Menolak kebatilan mereka yang merupakan kepalsuan itu.
Menegaskan kebenaran yang dibawa Islam.
Dan mujahadah dengan tangan atau pisik; bentuknya: menolak dan menyingkirkan
mereka-mereka yang melakukan penghadangan terhadap jalan hidayah dengan
mempergunakan kekuatan yang melampaui batas dan penghancuran yang curang.

Merasakan melalui mujahadah-nya itu:
Ujian (ibtila’ atau tribulasi) dan rasa sakit. Bersabar atas ibtila’ dan rasa
sakit itu. Bersabar atas kekalahan. Dan …

Bersabar atas kemenangan, karena, bersabar atas kemenangan lebih berat (sulit)
dari pada bersabar atas kekalahan. Kemudian …

Tetap Tsabat (tegar) dan tidak ragu-ragu, istiqamah dan tidak menolah-noleh dan
terus maju meniti jalan iman dengan terus menanjak dan tidak tersesat”.
Selanjutnya Sayyid Qutub mengatakan:

“Dan hakikat iman tidak sempurna dalam hati sehingga menghadapkannya untuk
mujahadah menghadapi orang banyak dalam urusan iman ini, sebab, saat ia
mujahadah menghadapi orang banyak itu:

Ia sendiri bermujahadah melawan dirinya sendiri.
Dan akan terbuka baginya wawasan dan pemandangan keimanan yang belum pernah
terbuka baginya selamanya bila ia hanya duduk (diam) dengan aman dan tenang.
Akan jelas baginya hakekat-hakekat tentang manusia dan kehidupan yang belum
pernah manjadi jelas baginya selamanya tanpa adanya wasilah (sarana) ini.
Dan ia sendiri -dengan jiwanya, segala perasaannya, persepsi-persepsinya,
kebiasaannya, tabiatnya, emosinya dan responnya- akan sampai pada sesuatu yang
tidak mungkin sampai kepadanya tanpa pengalaman berat dan sulit ini”.
Lebih lanjut Sayyid Qutub mengatakan:

“Inilah sebagian dari yang diisyaratkan firman swt:

Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebagaian
yang lain, pasti rusaklah bumi ini. (QS Al Baqarah: 251).

Dan kerusakan yang pertama kali terjadi adalah kerusakan jiwa manusia (nafsul
insan), kerusakan yang terjadi karena rukud (diam, tidak bergerak, atau
istilahnya berharakah, tidak mengalir), rukud yang menyebabkan:

Ruhnya membusuk akibat adanya stagnasi.
Himmah (semangat)-nya istirkha’ (mengendor, lembek, loyo, tidak kenceng).
Nafs (jiwa)-nya rusak dikarenakan adanya rakha’ (bergelimangnya harta dunia) dan
tharawah (tidak teruji dan terlatihnya jiwa itu dengan hal-hal yang berat).
Yang pada akhirnya seluruh kehidupanpun menjadi rusak gara-gara rukud tadi. Atau
karena hanya bergerak pada bidang syahwat saja, sebagaimana yang terjadi pada
bangsa-bangsa yang mendapatkan cobaan dalam bentuk kemewahan hidup”.
(Lihat : Hadzad-diin, Sayyid Qutub, hal: 12 – 13).

Older Posts »

Categories